Indonesia

Bukan Hanya Pandemi Corona, Tapi Juga “Infodemi” di WhatsApp

Gambar 1

oleh: Engelbertus Wendratama

(Artikel ini terbit di The Conversation Indonesia pada 3 April 2020)

Pada masa pandemi ini, WhatsApp menjadi saluran terpopuler warga dalam menerima “infodemi” Covid-19. Jika ingin meningkatkan kualitas informasi yang diterima warga, pemerintah perlu meningkatkan mutu dan pasokan informasinya melalui WhatsApp.

Awal Februari, Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) menyatakan wabah COVID-19 juga menyebabkan “infodemi” (infodemic).

Menurut WHO, infodemi adalah “banjir informasi, baik akurat maupun tidak, yang membuat orang kesulitan menemukan sumber dan panduan tepercaya saat mereka membutuhkannya”.

Infodemi ini yang membuat pandemi Covid-19 berbeda dari wabah SARS (pada 2003), H1N1 (2009), MERS (2012), dan Ebola (2014) –-yang terjadi sebelum ada “tren” misinformasi di media sosial.

Pemerintah menyatakan bahwa di Indonesia penyebaran hoaks virus SARS-CoV-2 terbanyak melalui WhatsApp. Memang, WhatsApp adalah jejaring sosial paling banyak digunakan di negara ini setelah YouTube.

WhatsApp mudah digunakan, tanpa iklan, dan tidak memerlukan kapasitas gawai besar; ditambah lagi, pesan di sana tidak bisa dimonitor atau dimoderasi oleh perusahaan WhatsApp (berbeda dengan platform terbuka seperti Facebook atau Twitter). Ini menjadikan WhatsApp saluran subur bagi misinformasi.

Saya melakukan survei untuk melihat pengalaman warga Indonesia di tengah lautan informasi pandemi dan sejauh mana informasi pemerintah memenuhi harapan mereka.

Survei itu menunjukkan bahwa WhatsApp adalah saluran utama warga dalam menerima segala jenis informasi tentang pandemi, baik benar atau hoaks. Sekitar separuh responden juga mengatakan bahwa informasi yang mereka terima sebagian besar hoaks dan merasa pemerintah belum berbuat banyak dalam memberikan informasi.

Pengalaman warga menghadapi infodemi

Saya membuat survei daring, yang tautannya saya bagikan melalui grup WhatsApp dan akun Facebook, Instagram, serta LinkedIn milik saya, yang dibagikan lagi oleh sejumlah orang yang menerimanya (convenience sampling, responden tidak dipilih). Pengumpulan jawaban responden dilakukan pada 28 dan 29 Maret 2020.

Survei sederhana ini terdiri lima pertanyaan, menjangkau 275 responden laki-laki dan perempuan di 45 kota/kabupaten, mulai dari Medan, Jakarta dan kota-kota di sekitar Ibu Kota, Pontianak, Denpasar, Makassar, hingga Jayapura.

Pertama, mengenai saluran yang paling sering mereka pakai dalam menerima segala jenis informasi, baik akurat maupun tidak, tentang Covid-19. Posisi nomor satu ditempati WhatsApp (37,1%), yang diikuti oleh media online (news site) (16,7%), Twitter (13,5%), Facebook (9,1%), televisi (8,7%), LINE Today (7,3%), Instagram (5,8%), YouTube (1,5%), dan media cetak (0,3%).

Pertanyaan kedua, sudahkah informasi tentang Covid-19 yang diterima responden dari pemerintah di saluran tersebut memenuhi harapannya? Sebagian besar responden menjawab belum (61,8%), dan hanya 38,2% yang menyatakan sudah.
Ketiga, responden diminta memperkirakan persentase jumlah hoaks dibanding informasi akurat yang mereka terima di saluran tersebut.
Keempat, responden diminta menyebutkan saluran di mana mereka paling sering menerima hoaks. Di sini, sekali lagi WhatsApp menempati urutan pertama dengan angka yang sangat dominan (78,5%), lalu jauh di bawahnya adalah Facebook (12,4%). Posisi berikutnya ditempati oleh media online (news site) dan Twitter, yang sama-sama mencatat angka 2,9%. Sedikit di bawah keduanya adalah Instagram (2,5%), diikuti news aggregator LINE Today (0,7%).
Pertanyaan terakhir bagi responden, seberapa sering mereka ingin menerima informasi dari pemerintah tentang Covid-19 melalui berbagai saluran?

Jawaban dari responden mengonfirmasi peran dominan WhatsApp dalam pertukaran informasi antarwarga Indonesia masa kini. WhatsApp adalah saluran teratas responden (37,1%) dalam menerima segala jenis informasi tentang pandemi, sekaligus sebagai saluran utama (78,5%) dalam menerima hoaks tentangnya.

Selain itu, di dalam saluran favorit responden, persentase hoaks tinggi (sekitar 50%). Ini memprihatinkan karena bisa dikatakan separuh informasi yang diterima responen terkait pandemi ini menyesatkan.

Sebagian besar responden (lebih dari 60%) merasa informasi dari pemerintah selama ini belum memenuhi harapan mereka. Lebih dari 60% responden juga ingin menerima pasokan informasi dari pemerintah antara 4-12 kali sehari.

Survei ini tidak menanyakan jenis informasi (info terkini jumlah pasien, kondisi fasilitas kesehatan, kebijakan karantina, dsb) maupun jenis format (teks, video, poster, dsb), sehingga masih banyak ruang yang bisa diungkap tentang preferensi warga ini.

Pasokan informasi terus-menerus

Meski tidak bisa dikatakan mewakili warga Indonesia secara umum, survei di atas (dengan margin of error 6%) setidaknya bisa memberikan gambaran tentang pengalaman dan harapan warga saat ini.

Pemerintah sebagai “panglima” dalam perang melawan pandemi perlu berupaya ekstra meningkatkan mutu dan jumlah pasokan informasi kepada warganya, terutama melalui WhatsApp.

Dalam kondisi psikologis warga yang resah, pemerintah pusat maupun daerah perlu memproduksi informasi terus-menerus kepada warga, tentang kondisi dan kebijakan terkini yang diambil. Meskipun, misalnya, kebijakan pemerintah hari ini masih sama dengan kebijakan kemarin, hal itu tetap harus disebarluaskan, karena warga menanti update, apa pun itu.

Jadi, imbauan supaya “warga hanya percaya informasi dari sumber resmi saja” tidak cukup di tengah pandemi, jika informasi resmi tidak dijumpai warga berulang kali sehari, seperti diindikasikan oleh survei tersebut. Kehausan warga akan informasi terbaru adalah keniscayaan dalam sebuah krisis seperti ini.

Berharap warga secara teratur melihat laman (website) resmi pemerintah adalah naif karena warga terutama melihat WhatsApp. Berharap warga hanya percaya pada informasi dari televisi juga lamunan belaka, karena warga terbiasa memakai WhatsApp untuk menerima informasi.

Pentingnya format yang sesuai

Informasi resmi dan benar juga perlu disesuaikan dengan kebiasaan pengguna WhatsApp.

Apakah kebanyakan hoaks di WhatsApp berbentuk video? Tidak. Apa berbentuk dokumen pdf berukuran besar? Tidak, karena banyak orang punya kuota internet terbatas dan malas membaca teks panjang. Sebagian besar hoaks COVID-19 berbentuk teks dan meme sederhana.

Selain itu, karakteristik pengguna WhatsApp juga perlu dipertimbangkan. Riset kami tentang penggunaan WhatsApp oleh perempuan Indonesia pada 2019 menemukan, para perempuan cenderung mendiamkan misinformasi di grup WhatsApp karena enggan berkonflik dengan anggota grup lain.

Ini adalah tantangan, namun bisa dihadapi, misalnya melalui narasi bahwa isu kesehatan ini sangat dekat dengan perempuan dan keluarga untuk mendorong mereka untuk berbagi informasi (yang akurat dan menarik) untuk melawan wabah dan hoaks.

Kampanye cegah corona dalam 42 bahasa daerah yang dilakukan oleh Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi). JapelidiCC BY

Informasi untuk masyarakat yang majemuk juga perlu dikemas dalam banyak bahasa yang beragam pula. Sebuah kampanye cegah corona, misalnya, dihadirkan dalam 42 bahasa daerah.

Upaya terbaik yang bisa dilakukan pemerintah dan pihak yang peduli adalah memproduksi informasi yang akurat sesering dan semenarik mungkin di saluran yang paling banyak digunakan –saat ini WhatsApp– supaya warga terdorong membaginya lebih jauh.

Dengan begitu, di dalam infodemi, warga lebih banyak berbagi informasi akurat alih-alih hoaks.