Indonesia

Modul Pendidikan Jurnalisme dan Disinformasi

sampul unesco

Penerjemah versi Bahasa Indonesia: Engelbertus Wendratama

Editor versi Bahasa Indonesia: Kuskridho Ambardi, Novi Kurnia, Rahayu, Zainuddin Muda Z. Monggilo.

UNESCO Kantor Jakarta bekerjasama dengan Departemen Ilmu Komunikasi UGM menerbitkan versi bahasa Indonesia dari modul yang berjudul asli Journalism, ‘Fake News’ & Disinformation (2019).

Modul ini diperuntukkan bagi pengajar dan pelatih jurnalisme terkait dengan disinformasi dan jurnalisme, serta apa yang bisa dilakukan jurnalisme untuk ikut mengatasinya.

Mengulas “gangguan informasi” dari tataran filosofis dan historis hingga praktis, modul bahasa Indonesia ini bisa diunduh melalui: bit.ly/bukujurnalisme01

 

Indonesia

Buku “Literasi Digital Keluarga”

Screen Shot 2019-02-18 at 09.08.35

Editor: Novi Kurnia
Penulis: Novi Kurnia, Engelbertus Wendratama, Wisnu Martha Adiputra, Intania Poerwaningtias
Penerbit: UGM Press, SiberKreasi, dan CfDS Fisipol UGM (2018)

Dengan memadukan teori dan praktik literasi digital keluarga, buku ini mempunyai sasaran pembaca yang relatif luas.

Pertama, akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang tertarik pada isu literasi digital terutama pada institusi keluarga. Mereka bisa memanfaatkan buku ini sebagai referensi.

Kedua, pegiat literasi media dan literasi digital yang menaruh perhatian pada persoalan penggunaan internet pada anak- anak dan peran orangtua dalam pendampingan. Mereka dapat menggunakan buku ini sebagai panduan dalam melakukan berbagai kegiatan literasi media atau literasi digital, terutama yang target sasarannya adalah anak-anak dan orangtua.

Ketiga, orangtua yang mempunyai kepedulian terhadap interaksi anak dengan internet dan dampak yang ditimbulkannya. Buku ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk meningkatkan kecakapan literasi digital anak. Selain itu, buku ini juga bisa berfungsi sebagai panduan dalam mendampingi anak dalam berinteraksi dengan internet.

Keempat, guru yang mendampingi anak dalam menggunakan internet di sekolah, misalya dalam proses pengajaran dan pemberian tugas. Buku ini pun bisa bermanfaat sebagai panduan bagi guru agar mempunyai kecakapan literasi digital dalam mendampingi anak-anak di sekolah.

Secara teoretis, buku ini mendiskusikan pentingnya pendampingan orangtua dalam praktik literasi digital di rumah. Isu ini relevan karena keluarga urban dewasa ini telah memperkenalkan internet pada anak sejak usia dini.

Buku ini memberikan argumentasi bahwa orangtua idealnya memiliki dan meningkatkan kecakapan literasi digital agar bisa menjadi agen literasi yang bijak dalam keluarga. Posisi orangtua di sini tidak hanya berkaitan dengan posisi ibu saja, yang sering dianggap sebagai pendidik utama keluarga, namun juga posisi ayah serta anggota keluarga lain.

Secara praktis, buku ini mengisi kekosongan pustaka literasi digital yang memadukan pendekatan teoretis maupun praktis pada pola pendampingan orangtua terhadap anak dalam penggunaan internet.

Setiap keluarga unik dan mempunyai cara masing-masing dalam mengatasi berbagai persoalan terkait dengan penggunaan internet oleh anak. Cerita-cerita kecil tentang praktik literasi digital keluarga melalui mereka amatlah penting sebagai pintu masuk untuk memahami literasi digital keluarga di Indonesia.

http://literasidigital.id/books/literasi-digital-keluarga/

 

 

Indonesia

Buku Panduan Praktis “Yuk, Temani Anak Berinternet”

Screen Shot 2019-02-18 at 09.04.27

Penulis: Engelbertus Wendratama dan Novi Kurnia
Penerbit: Magister Ilmu Komunikasi UGM, CfDS Fisipol UGM, dan SiberKreasi (2017)

Kini internet adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun akrab dengan internet. Pertanyaannya adalah apakah anak-anak mampu menggunakan internet secara bijak dengan memaksimalkan kesempatan yang ditawarkan internet dibandingkan dengan risikonya?

Buku Yuk, Temani Anak Berinternet adalah jawaban sederhana bagi orangtua maupun orang dewasa lainnya dalam menemani anak-anak berinternet. Buku panduan ini terbagi atas dua bagian besar tip-tip menemani anak berinternet. Bagian pertama untuk menemani anak berusia pra sekolah (2-5 tahun). Bagian kedua untuk anak usia sekolah (6-12 tahun).

Buku yang ditulis oleh Engelbertus Wendratama dan Novi Kurnia ini merupakan salah satu luaran selain videografik dari program penelitian dan pengabdian masyararakat. Buku ini adalah bagian dari buku Literasi Digital Keluarga: Teori dan Praktik Pembimbingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet yang dimodifikasi sehingga bisa dibaca dengan lebih mudah untuk orangtua dan anak.

http://literasidigital.id/books/yuk-temani-anak-berinternet/

 

Indonesia

Buku “Jurnalisme Online”

IMG_4588 2

“Jurnalisme Online: Panduan Membuat Konten Online yang Berkualitas dan Menarik”

Penulis: Engelbertus Wendratama

Penerbit: Bentang Pustaka (2017)

https://bit.ly/2RcyHkA

Media digital menawarkan banyak cara menarik untuk menyampaikan cerita: kombinasi liputan dan kurasi, liputan panjang dengan alat multimedia seperti video, infografik, dan timeline interaktif, serta liputan langsung. Keunggulan yang lain, tentu pada kecepatan menyampaikan informasi, diimbangi dengan kemampuan mengulas cerita lebih dalam daripada versi cetak dan penyiaran. Idealnya begitu.

Di Indonesia, banyak media daring sudah menawarkan beragam konten berkualitas dan inovatif, tetapi beberapa justru membuat jurnalisme daring terkesan murahan dan menyerupai jurnalisme kuning yang menyajikan sensasi belaka.

Buku ini berupaya menjadi pijakan awal Anda untuk menguasai berbagai pekerjaan di wilayah jurnalisme multimedia, mulai dari aspek penulisan, prinsip dan etika jurnalisme, pemanfaatan alat multimedia dan media sosial, konten untuk anak muda dan format ponsel, hingga inovasi bisnis terkini.

 

Indonesia

Salah Satu Cara Membuat Infografik

Sebagai bentuk paling sederhana dari jurnalisme data, infografik bertujuan salah satunya menyajikan gambaran besar tentang suatu hal melalui kombinasi teks, ikon, gambar, dan warna.

Di bawah ini adalah contoh infografik yang saya buat untuk buku Panduan Melakukan Jurnalisme Data tentang Jaminan Kesehatan Nasional (2015).

BPJS Kesehatan adalah lembaga yang bertugas menjalankan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sebuah program pemerintah untuk menjamin kesehatan seluruh warga.

Visualisasi ini saya buat secara sederhana dengan bantuan piktochart.com, alat yang sangat memudahkan pembuatan infografik.

Kinerja BPJS Kesehatan

Di bawah ini adalah langkah-langkah menyusunnya, yang saya tuliskan dalam buku panduan jurnalisme data JKN itu.

  • Membuat infografik yang memuat berbagai angka penting dan hubungan di antara mereka

Kita harus mengumpulkan angka-angka atau data terlebih dulu. Data ini bisa berbentuk tabel atau tulisan yang menguraikan angka-angka penting.

Selanjutnya, kita mencari hubungan-hubungan di antara berbagai informasi itu.

Hubungan yang seperti apa? Hubungan yang bernilai berita: menarik dan penting bagi warga.

Di sini, seperti halnya mencari sudut berita, kreativitas dan intuisi berita memiliki peran penting.

Intuisi berita hanya bisa dibangun jika kita mengamati realitas dan membaca berita yang berkualitas.

Dalam setiap proses pembuatan infografik, awalnya kita tidak tahu harus memilih informasi apa. Bingung itu wajar. Teruskan saja mencermati beragam data tentang JKN. Kalau ada informasi yang menurut Anda menarik, tuliskan. Tulis poin-poin penting yang berpotensi bernilai berita, misalnya jumlah peserta JKN, warga yang belum ikut JKN, defisit anggaran BPJS Kesehatan, dan sebagainya.

Kumpulkan ide-ide itu terlebih dulu.

Sebagai contoh, saat pertama kali mengumpulkan berbagai data tentang JKN, saya juga tenggelam di lautan data. Saat membaca tulisan tentang sejumlah pencapaian BPJS Kesehatan, saya juga tidak menemukan hal-hal yang bernilai berita: tidak ada struktur atau sistematika yang bisa dibangun dari tulisan itu.

Kemudian, saya menemukan berita di Kompas cetak halaman 13 (26/8) berjudul Benahi Sistem JKN: Pelaksanaan Program Gerakkan Ekonomi Bangsa. Berita ini memuat angka-angka penting selama 2014, yaitu:

  • Negara menyuntikkan Rp 6 triliun untuk menutup defisit anggaran yang terjadi.
  • Sebanyak 30 persen peserta mandiri tak membayar iuran sebagaimana mestinya. Banyak yang mendaftar saat sakit, tapi berhenti beriuran saat sudah sembuh.
  • JKN menyumbang Rp 18,6 triliun untuk ekonomi Indonesia: peningkatan layanan kesehatan (4,4 triliun), peningkatan pendapatan industri farmasi (1,7 triliun), penambahan lapangan kerja kesehatan (4,2 triliun), dan pembangunan rumah sakit (8,35 triliun).
  • JKN meningkatkan belanja kesehatan nasional menjadi 3,3 persen dari total pendapatan bruto. Namun, belanja ini masih didominasi sektor pemerintah karena banyak pegawai swasta yang belum didaftarkan oleh perusahaan swasta.

Tapi, saya belum menemukan hal-hal seperti jumlah penduduk Indonesia yang sudah ikut JKN dan yang belum, jumlah pekerja di Indonesia yang sudah ikut JKN dan yang belum, jumlah orang sakit yang dijamin JKN dan yang tidak, jumlah klaim yang sudah dibayar dan yang belum, dan informasi bernilai berita lainnya.

Lalu, saya mencarinya di internet. Yang bisa saya temukan secara lengkap adalah data sebagai berikut:

  1. Jumlah peserta JKN hingga akhir 2014: 132 juta jiwa.  Peserta terbanyak adalah penerima bantuan iuran (PBI) sebanyak 94.9 juta jiwa (73%), diikuti oleh peserta pekerja penerima upah (PPU) sebanyak 24,1 juta (18%), peserta mandiri 7,6 juta (5%), dan peserta bukan pekerja non-PBI berjumlah 4,9 juta (4%).
  1. Jumlah penduduk Indonesia hingga akhir 2014: 248 juta jiwa. Saya lalu menghitung: baru sekitar 53,2% penduduk yang sudah menjadi peserta JKN.
  2. Jumlah peserta JKN hingga Mei 2015: 143 juta jiwa.
  3. Perkiraan pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 2,6 juta jiwa per tahun. Dari ini, saya menghitung perkiraan pertumbuhan penduduk Indonesia per bulan adalah 216,6 ribu jiwa. Oleh karena itu, perkiraan jumlah penduduk Indonesia hingga Mei 2015 adalah 248 juta + 1,08 juta = 249 juta.
  4. Menurut Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKEKK FKM UI), yang melakukan jajak pendapat terhadap 681 responden di 20 provinsi pada 2015, 49 persen responden mengaku telah menjadi peserta JKN. Dari total ini, kelompok usia tertinggi ialah 21-30 tahun, yakni sekitar 44,5 persen.

Riset FKM UI itu juga menemukan sejumlah angka menarik yang lain. Namun, data ini tidak konsisten dengan set data nomor 1 hingga 4 karena hanya berkenaan dengan 20 provinsi, jadi tidak bisa dimasukkan dalam infografik yang sama. Ini adalah contoh set data yang sangat menggoda untuk dipakai, tapi harus Anda tinggalkan.

Dari semua informasi itu, saya sudah mendapatkan sejumlah angka penting yang memiliki hubungan, dengan kata lain: berpotensi menciptakan cerita. Bila sudah ada potensi cerita, Anda bisa melakukan perhitungan seperti yang saya lakukan untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia hingga Mei 2015 di atas.

Saya lalu menggambar di kertas kosong, teks dan gambar apa yang ingin saya tampilkan. Kadang, proses ini butuh waktu lama karena Anda mencoba ide-ide untuk menemukan dan menyusun teks, ikon, dan gambar.

Di tahap ini, Anda juga bisa melihat-lihat contoh infografik di internet. Ketik saja infographic, dan Anda akan menemukan contoh-contoh keren yang dirancang untuk tampil di laman internet. Infografik Anda juga harus dirancang untuk tampil memadai di internet, enak dilihat di laptop atau gawai, dan mudah dibagikan melalui aplikasi seperti WhatsApp.

Indonesia

Dua Prinsip dalam Menulis NonFiksi

Screen Shot 2017-05-19 at 7.14.19 PM

Tulisan ini diambil dari naskah buku panduan jurnalisme daring yang sedang saya buat.

Pemakaian bahasa yang baik adalah keunggulan utama jurnalis. Jurnalis sudah seharusnya unggul dalam menggunakan tulisan daripada kelompok profesi lain. Ini sudah lama diketahui secara luas di negara maju. Bila ingin sekolah jurnalisme (dan juga komunikasi) di Amerika Serikat, skor TOEFL kita harus lebih tinggi daripada jika ingin mendaftar ke jurusan sosiologi, politik, ekonomi, dan lainnya. Bahasa adalah senjata utama orang komunikasi, terutama jurnalisme.

Apa itu prinsip dalam menulis nonfiksi?

Secara prinsip, cuma ada dua.

Pertama, menulis secara baik dan efisien.

Baik itu berarti mudah dimengerti, masuk akal, sistematis, mengikuti etika, dan mengikuti aturan tata bahasa. Jadi, baik juga berarti benar.

Efisien di sini berarti menulis secara singkat dan padat makna.

Kalimat yang tidak singkat adalah sebuah kalimat yang jika salah satu katanya dihilangkan, pesan kalimat itu tetap sama. Penulis nonfiksi yang baik bisa melucuti semua kata yang tidak memiliki fungsi di dalam kalimatnya.

Padat makna berarti setiap kalimat dalam tulisan itu memiliki satu atau lebih makna yang mudah dimengerti. Jangan sampai ada kalimat yang hanya mengulang pesan yang sudah disampaikan kalimat lain. Jangan sampai ada kalimat yang tidak menyampaikan nilai berita (penting dan menarik) atau kalimat klise.

Yang terakhir, karena kita menulis dalam bahasa Indonesia, kita harus menyusunnya sesuai aturan baku bahasa Indonesia. Jangan pula menggunakan kosa-kota bahasa asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa tanah air.

Kedua, kemampuan merangkum yang baik.

Semua tulisan (narasi) sesungguhnya adalah rangkuman data. Data ini bisa berupa pengamatan, pemikiran, perasaan, atau fakta dalam bentuk apa pun. Jadi, kemampuan merangkum sangat penting. Tugas wartawan sejatinya adalah merangkum peristiwa atau rangkaian peristiwa dan tanggapan orang terhadapnya.

Merangkum adalah kecakapan khas dalam jurnalisme, yang membuat penulis bisa menyusun laporan padat dari rangkaian peristiwa kompleks atau laporan panjang, bahkan yang paling tidak sistematis sekalipun.

Sesungguhnya, dua kecakapan jurnalistik itu berguna untuk berbagai pekerjaan lain yang berhubungan dengan media dan situs web. Banyak teman kuliah saya di Boston yang setelah lulus ingin bekerja sebagai pegawai humas atau pemasaran. Ini karena industri di AS tahu bahwa lulusan sekolah jurnalisme adalah orang yang cakap menulis, merangkum, dan membuat laporan multimedia untuk beragam topik.

Setelah dua kemampuan pokok yang berlaku umum itu, kita bisa mempelajari kemampuan menulis secara indah.

Sayangnya, di Indonesia, banyak orang memaknai “orang yang bisa menulis” adalah orang yang  bisa menulis dengan kata-kata indah atau “penuh bunga”, entah strukturnya benar atau tidak. Padahal menulis dengan indah, dalam bahasa Inggris disebut prose, adalah kemampuan sekunder atau pemanis. Yang harus ada adalah bisa menulis secara baik dan efisien.

Orang bisa mendebat bahwa menulis indah adalah sebentuk penulisan kreatif, yang juga penting dalam jurnalisme. Tapi, jika kita kuliah jurusan creative writing di negara seperti AS, kemampuan pertama yang akan diajarkan adalah menulis secara baik dan efisien. Setelah banyak berlatih dan mahir, pelajaran selanjutnya adalah menulis dengan indah, entah untuk cerita pendek, novel, atau puisi.

English

Japanese journalist on nuclear energy

By Engelbertus Wendratama

Today the way most Japanese people see nuclear energy is different from how they did before the March 2011 Fukushima disaster. There are wide public protests against nuclear power, calling for it to be abandoned. This radical change of attitude occurred in many Japanese journalists, including Rie Yamada, who has been reporting for the Asahi Shimbun for ten years.

It is one of her biggest regrets that she didn’t start writing about the downsides of nuclear power in 2008 when she had an opportunity.

That year she met Professor Hiroaki Koide, a nuclear scholar who has been opposed to nuclear energy for decades.  Yamada interviewed him, but she dropped the story. Like her fellow journalists and the Japanese people in general, she was surrounded by the “nuclear energy renaissance” mentality, suggesting nuclear power is very advanced, sophisticatedly safe technology, and therefore excellent for the country. Another opinion was simply unacceptable.

Rie Yamada in Cambridge, October 24.
Rie Yamada in Cambridge, Oct. 24.

Rie Yamada, 35, said, “At that time, I kept asking myself, ‘What if I am wrong? What if Koide is wrong?’ because all people seemed to support nuclear power. Almost all nuclear experts supported nuclear energy. My senior said, ‘Even Germany now uses nuclear power’. All these factors and my lack of understanding of the energy led me to drop the idea.”

Now Yamada is in the U.S. studying the closures of American nuclear reactors and how they affect their host communities. As a country with the most nuclear power plants in the world — now 100 active reactors — the U.S. has a wide range of nuclear-related experiences that Yamada believes to be important for her country. She is determined to let Japanese people know various effects of the energy, which she thinks should have been learned by the public many years ago.

“Before 3/11, people didn’t know much about nuclear energy. We just believed what experts and the government said. It’s also journalists’ fault because journalists didn’t really know about the energy,” Yamada said in Cambridge, her base for her year-long research.

Her reporting experience in Fukui, and then Fukushima, is what encouraged Yamada to do the research. In March 2011, she was based in Fukui Prefecture, reporting challenges faced by Fukushima refugees. These people used to live in coastal areas of Fukushima, and most were fishermen — the poorest people in Japan.

“Basically these refugees became jobless because all they know is fishing. Local people in Fukui also lost their jobs because most of them worked for nuclear power plants in Fukui. When reactors stopped operating, there’s a big number of unemployment. Electricity shortages also created problems for businesses. People were just waiting, some of them found seasonal jobs. There’s a lot of social economic problems in Fukui after 3/11,” she recalled.

The refugees were allowed to visit their hometowns for the first time in November 2011, for only four hours, to collect their belongings after evacuating. Yamada went to the affected areas for the first time with the residents of Futaba, the host town of the Fukushima power plants.

“It was like a ghost town. Time stopped in March 2011. Animals are everywhere — pigs, cows, rats. It’s a scary place,” she said.

A sign on the main road of Futaba saying
A sign on the main road of abandoned Futaba saying “Nuclear energy for bright future.” Photo courtesy of Rie Yamada, Nov. 2012.

Yamada said the earthquake followed by the meltdowns really devastated local people. They lost almost everything in their lives. She thinks that the nuclear operator, Tepco, should have done more to prevent this all from happening. “Tepco really didn’t anticipate this. For example, when it happened, the emergency centers in Fukushima couldn’t be used because they’re too close to the reactors. This is unacceptable,” she said.

Various negative aspects about nuclear plants only came up in the mainstream media weeks after 3/11. Previously the media was a big supporter of the nuclear companies, together with government officials and nuclear scholars. Whenever people raised opposing voices, they were easily regarded as just “protesters or activists who were not experts, so we didn’t need to listen to them,” she said.

As a research fellow at Harvard University, she visits active and non-active nuclear plants in New York, Vermont and San Diego, California. She wants to learn how things could possibly be handled better since the Japanese government plans to reactivate some of the 50 currently-offline nuclear reactors. When companies restart their reactors, she will do her best to make sure that more related aspects are under consideration, mainly safety issues and socioeconomic concerns for host communities.

Yamada is also concerned with what she saw during her two visits to Fukushima. Although the affected areas are closed for human beings due to the radioactive contamination, birds and other animals still go in and out of the areas, carrying hazardous substances. She agrees with what Professor Koide told her: once nuclear reaction happens, no human being can control the energy.