Indonesia

WikiLeaks dan Matra Baru Jurnalisme Investigasi

(Ini adalah bagian dari kumpulan artikel yang sudah diterbitkan: arsip yang saya cari lalu unggah di sini sebagai dokumentasi. Tulisan ini dimuat di Polysemia edisi Januari 2011. Kala itu, menjelang akhir 2010, WikiLeaks menjadi fenomena global yang mengundang pro-kontra. Kontra tentu saja datang dari pemerintah, utamanya pemerintah AS. Pihak yang paling terbuka mendukung mereka adalah aktivis, jurnalis, dan penggiat kebebasan informasi.)

WikiLeaks

WikiLeaks meraih popularitas global setelah selama 2010 menerbitkan informasi yang menggemparkan komunitas internasional. Informasi ini antara lain catatan detail operasi militer Amerika Serikat (AS) di Irak dan Afganistan, komunikasi diplomatik rahasia antara Washington dan kedutaan besar AS di berbagai negara, serta sebuah video yang menunjukkan serangan helikopter Apache AS yang membunuh 12 warga sipil—termasuk 2 wartawan Reuters—di Baghdad pada 2007.

Sebelumnya, situs yang hadir pertama kali pada Desember 2006 ini juga telah mengungkap berbagai skandal besar, seperti pelanggaran hak asasi manusia di Cina, politik hitam di Kenya, dan kebijakan AS menyangkut penjara Guantanamo. Oleh karena pengungkapan-pengungkapan itu, WikiLeaks pun menerima 2 penghargaan bergengsi, yaitu Index on Censorship-Economist Freedom of Expression Award (2008) dan Amnesty International New Media Award (2009).

Bagi sebagian kalangan, organisasi dengan nama hukum Sunshine Press ini dianggap sebagai “masa depan jurnalisme investigasi” dan organisasi berita pertama yang tak memiliki negara.

Sebagai media, WikiLeaks benar-benar merdeka. Pendirian dan operasionalnya tidak didanai oleh politikus, kelompok kepentingan, atau perusahaan apa pun. Media ini tidak bertujuan mendapatkan pemasukan iklan. Mereka menyebut diri sebagai organisasi nonprofit yang didanai oleh “aktivis hak asasi manusia, wartawan investigasi, teknologis, dan publik secara umum”. Situsnya menjelaskan bahwa mereka “menerima dokumen politik atau diplomatik yang masuk kategori rahasia, terbatas, atau tersensor, dan tidak menerima gosip, opini, atau materi apa pun yang telah terpublikasi secara umum”. Dalam kata-kata pendirinya, Julian Assange, seorang aktivis dengan latar belakang peretas, “Kami berfokus pada usaha membuat materi dari whistle-blower atau jurnalis di seluruh dunia yang tidak lulus sensor bisa diakses oleh publik.” Mereka secara terbuka mengundang whistle-blower dan jurnalis untuk mengirimkan dokumen rahasia kepada situs, tapi juga sekaligus menjamin kerahasiaan identitas pengirim, bahkan dari pihak ketiga yang ingin meretas situs. Mereka menggunakan teknik-teknik kriptografi canggih dan payung hukum untuk melindungi sumber.

Dalam proses berikutnya, WikiLeaks mempekerjakan sekumpulan orang untuk menyelidiki dokumen yang mereka terima. Ini adalah cara yang disebut para penggiat jurnalisme sebagai “crowdsourcing”, yakni menggunakan banyak orang untuk menyelidiki sesuatu, bukan menggunakan wartawan investigasi tunggal seperti yang terjadi dalam contoh klasik pengungkapan Watergate. Jejaring WikiLeaks  mencakup 800 sukarelawan paruh waktu (sebagian besar wartawan dari berbagai media mainstream) dan 10.000 pendukung di seluruh dunia.

Sifatnya yang tak-bernegara ditegaskan oleh aktivitas situs yang berpindah-pindah server di beberapa negara. Mereka menyebarkan aset supaya tidak terpusat di satu lokasi, melakukan enkripsi semua data, dan memindahkan peralatan telekomunikasi dan pegawai mereka berkeliling dunia, sekaligus mendorong berlakunya hukum yang melindungi kebebasan informasi di berbagai wilayah hukum. Para sukarelawan juga membuat “mirror” dari situs asli di banyak server berbagai negara sehingga aksesibilitasnya tetap terjaga. Assange sendiri tidak memiliki kediaman tetap dan tinggal bersama teman-temannya yang tersebar di banyak negara.

Secara singkat, WikiLeaks bekerja seoptimal mungkin untuk melayani kepentingan whistle-blower (yang ingin memublikasikan informasi politik atau diplomatik rahasia dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas, dan karenanya menginginkan media yang berani, aman, sekaligus populer), jurnalis (yang butuh informasi yang menarik, kuat, dan menjanjikan kebenaran baru), dan publik (yang berhak tahu cara kerja para penguasa yang selama ini mereka sembunyikan dan tak pernah bisa ditampilkan oleh media).

 

Matra Baru: Antara Jurnalisme, Spionase, dan Gerakan Sipil

Dalam sejarahnya, di era 1900-an, jurnalisme investigasi muncul dan berkembang di AS sebagai upaya wartawan untuk “memerangi kejahatan” sehingga disebut sebagai crusading journalism atau jurnalisme jihad. Ia adalah media perlawanan terhadap elite di kalangan pemerintahan dan bisnis yang melakukan tindakan kejahatan dan antisosial. Kerja para jurnalis ini dicirikan oleh sikap yang tidak puas hanya dengan “berita yang dapat dilihat”, tapi menghendaki “penggalian yang mendalam dan berisiko tinggi” terhadap fakta-fakta tersembunyi. Dan pembuktian yang “kredibel” akan fakta tersembunyi ini hanya bisa diperoleh wartawan melalui dua cara: penelusuran (pengamatan langsung oleh wartawan) dan informasi dari orang dalam (dokumen atau kesaksian).

Intisari jurnalisme investigasi awal itu yang sekarang dikibarkan oleh WikiLeaks melalui pengumpulan dan publikasi dokumen yang telah mereka lakukan sejak 2006. Assange menggambarkan dirinya sebagai crusading journalist yang siap mengungkap “kepemimpinan yang korup dan penuh kebohongan dari Bahrain hingga Brazil” dan hanya menarget “organisasi yang menggunakan kerahasiaan untuk menyembunyikan perilaku tidak adil.”

Setelah beroperasi selama 4 tahun, mereka melakukan perubahan strategi dalam mendistribusikan dokumen. Sebelumnya, setelah mengkaji dokumen-dokumen dari sumber, WikiLeaks mengunggah begitu saja dokumen rahasia tersebut di situs dan menyebarkan rilis pers ke berbagai media internasional. Namun, saat akan memublikasikan dokumen Afganistan pada 2010, mereka bermitra dengan 3 media ternama: New York Times, surat kabar Guardian di Inggris, dan majalah Jerman yang terkenal dengan liputan investigasi, Der Spiegel. Perhatian yang diterima WikiLeaks sangat mungkin tidak sebesar sekarang bila mereka tidak melakukan kolaborasi ini.

Mereka meminta tim jurnalis dari ketiga media tersebut untuk meneliti dan menilai  kualitas dokumen tersebut. Selanjutnya, WikiLeaks membatasi distribusi awal dokumen kepada tiga media yang jurnalismenya tepercaya secara universal itu. Ini adalah sebuah bentuk kolaborasi yang belum pernah terjadi dalam dunia media. Publikasi ini pun menciptakan gelombang yang besar dan dalam hitungan menit setelah rilis online, beritanya tampil di situs-situs berita seluruh dunia, blog-blog diskusi, dan Twitter, meskipun beberapa pengamat mengatakan sebenarnya hanya ada sedikit informasi baru yang dimuat dokumen tersebut. Kerjasama dengan tiga media mainstream itu adalah langkah cerdas karena semakin penting dan besar muatan dokumen tersebut, semakin sedikit peluang dokumen itu direportasekan secara memadai bila dipublikasikan secara serempak kepada semua orang. Selain itu, bila WikiLeaks menerbitkan begitu saja semua materi yang didapat, mereka akan dituduh bertindak sembrono dan tak bertanggung jawab. WikiLeaks memang telah memasuki sebuah wilayah baru yang tak satu pun wartawan atau media pernah melakukannya.

Tak berlebihan kemudian bila WikiLeaks dinilai telah “menyelamatkan jurnalisme” karena membuka mata kita bagaimana sumber-sumber resmi (pemerintah dan korporasi) seringkali menyembunyikan kebenaran. Pada dasarnya, jurnalisme bertugas memberitakan kebenaran, dan ini yang sering gagal ia jalankan karena ketidakmampuannya memperoleh sumber berita alternatif yang kredibel sekaligus melindunginya, terutama untuk perkara besar.

Sebagai contoh, media tidak menentang agenda pemerintah AS dan Inggris untuk menggelar perang di Irak pada 2003 karena media begitu percaya pada versi resmi pemerintah (Irak menyimpan senjata pemusnah massal, yang lalu ternyata tidak terbukti) dan tidak berusaha keras untuk menemukan versi alternatif.

Namun, bagi pemerintah dan korporasi yang rahasianya dibongkar, WikiLeaks adalah sebuah ancaman serius.Para pengacara Departemen Pertahanan AS berniat menuntut WikiLeaks atas pelanggaran Undang-Undang Spionase, termasuk terlibat pencurian properti pemerintah. Tentang ini, pendukung WikiLeaks telah menyiapkan pembelaan, yakni apa yang dilakukannya dilindungi oleh Amandemen Pertama dalam Konstitusi AS, yang membela kebebasan pers dalam memperoleh dan menyebarkan informasi demi kepentingan publik.

Beberapa pejabat AS juga berargumen bahwa tindakan WikiLeaks membocorkan informasi rahasia bisa membahayakan nyawa warga sipil atau personel militer yang terlibat dalam aktivitas militer atau spionase. Tapi, hal ini segera mendapat beberapa tantangan. Daniel Ellsberg, seorang mantan analis militer yang pada 1971 mengeluarkan Pentagon Papers yang membeberkan kebohongan dan skandal pemerintah AS pada Perang Vietnam, mengatakan dirinya skeptis bahwa pemerintah AS benar-benar percaya ada nyawa yang terancam akibat tindakan WikiLeaks. Menurutnya, pejabat AS selalu mengeluarkan argumentasi yang sama tiap kali ada kebocoran informasi yang memalukan. Hal itu juga terjadi saat keluarnya Pentagon Papers, dan ternyata argumentasi itu sungguh tidak valid. Selain itu, juru bicara Pentagon menyatakan bahwa hingga 3 bulan setelah pembocoran dokumen, tidak ada seseorang yang terbunuh atau terluka di Afganistan akibat informasi yang disebarkan WikiLeaks.  New York Times sendiri menegaskan bahwa mereka telah memastikan dokumen WikiLeaks tidak memuat informasi identitas yang bisa membahayakan siapa pun.

Satu hal yang disetujui oleh para ahli dan pengamat adalah pembocoran dokumen oleh WikiLeaks akan membuat pekerjaan diplomat dan intelijen AS menjadi lebih berat. Meski pembocoran itu tidak memberikan ancaman langsung bagi nyawa warga AS,  hubungan internasional AS dengan banyak negara akan terganggu dan bisa mengarah pada hubungan antarbangsa yang tidak harmonis. Setidaknya, dokumen diplomatik yang dibocorkan akan membuat pemerintah Pakistan, Yaman, dan pemerintah lain yang berkolaborasi dengan AS dalam perang melawan terorisme menjadi lebih enggan untuk bekerja sama. Dokumen WikiLeaks berpotensi membahayakan kerjasama penting antara pemerintah AS, Inggris, dan beberapa lainnya, yang memayungi masyarakat dunia dari terorisme. Namun, potensi bahaya ini sebenarnya berpulang pada kedewasaan dan kepentingan pemimpin-pemimpin negara tersebut.

WikiLeaks adalah sesuatu yang diimpikan dari para pemrakarsa era informasi. Sama sekali tidak ada informasi monoton yang mewakili kepentingan penguasa dan kampanye tersebulung untuk mendukung kekuatan politik atau bisnis tertentu. Kebebasan informasi benar-benar ada di sana, tidak ada sensor atau pembungkaman oleh kekuatan negara maupun modal. Memang, ancaman dan gangguan datang silih-berganti. Situs WikiLeaks berkali-kali diserang oleh peretas. Dari sektor bisnis, Mastercard, Visa, dan PayPal tidak mau menyalurkan uang dari orang yang memberikan donasi kepadanya. Perusahaan web raksasa, Amazon, juga menghentikan layanan bisnis kepadanya. Rekeningnya di bank Swiss juga telah ditutup. Sejak 2006 hingga 2010, mereka telah menghadapi lebih dari 100 tuntutan hukum yang berupaya membuatnya offline dari internet. Bagaimanapun, WikiLeaks tetap beroperasi hingga sekarang.

Bahkan, mereka telah bergerak lebih jauh dengan melakukan gerakan sipil lintas-negara, yaitu mengampanyekan kebebasan informasi dan pers sekaligus perlindungan hukum bagi wartawan dan narasumber mereka. WikiLeaks menjadi titik temu bagi potensi besar teknologi informasi, jurnalisme (investigasi), dan gerakan sipil yang semuanya ingin mewujudkan perilaku politik yang lebih adil. Pengalaman WikiLeaks “berhubungan” dengan berbagai aturan hukum di banyak negara membuatnya diminta membantu Perdana Menteri Islandia menyusun rancangan bagi Icelandic Modern Media Initiative (IMMI), yang bertujuan membangun perangkat hukum untuk melindungi wartawan dan narasumber mereka. Dan keterlibatannya dalam IMMI memberi WikiLeaks kredibilitas baru.

Sekarang, Julian Assange sedang ditahan Interpol atas tuduhan kejahatan seksual terhadap 2 perempuan Swedia, tuduhan yang langsung ditolak oleh Assange dan dianggap banyak pihak sebagai rekayasa akibat ketidakmampuan “penguasa” menghentikan aktivitas media ini. Assange dan WikiLeaks dinilai telah menyelamatkan jurnalisme dari kepalsuan, tapi siapa yang akan menyelamatkan Assange?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s