Indonesia

Kasus Pembunuhan Munir: Kejahatan yang Sempurna?

Ini adalah bab satu dari buku saya Kasus Pembunuhan Pembunuhan Munir: Kejahatan yang Sempurna? Bentuknya jurnalisme naratif, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2009.

Sebagian besar materi buku ini berasal dari catatan resmi (catatan pengadilan, BAP Kepolisian, investigasi Garuda Indonesia), pengamatan penulis,  dan wawancara dengan orang yang terlibat langsung. Setahu saya, ini adalah pembunuhan paling canggih dalam sejarah Indonesia: sangat rumit dan kompleks. 

Satu

6 September 2004. Indonesia, terutama Jakarta, ramai oleh pemilihan presiden. Kali pertama pemilihan presiden langsung sejak merdeka. Tepat dua pekan sebelum hari H putaran kedua dengan rakyat bakal menentukan Megawati Soekarnoputri atau Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi kepala negara.

Malam hari, sepasang suami istri berbincang di depan pintu keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta. Keduanya akan berpisah setahun setelah hidup bersama sembilan tahun. Si suami, Munir Said Thalib, bakal melanjutkan studi S-2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda.

Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan oleh petugas bandara untuk naik ke pesawat. Munir juga akan menggunakan jasa maskapai andalan bangsanya itu.

Pesawat itu berkapasitas 418 penumpang yang dibagi ke kelas ekonomi, bisnis, dan premium. Boeing 747-400 adalah pesawat terbesar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Anggota keluarga besar Boeing 747 ini memiliki panjang 70 meter, jangkauan sayap 65 meter, lebar ruang kabin 6 meter, dan tinggi 19 meter, dengan kecepatan maksimal 1.093 km per jam.

Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang.

Diawali percakapan dengan Polly, Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G.

Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser adalah pimpinan kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.

Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis ini, yaitu menurut kisah Brahmanie dan Polly.

Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, “Saat sedang di depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, ‘Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku,’ (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di 40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang kosong.”

Sementara itu, dalam wawancara Polly bercerita, “Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di bandara Jakarta. Dia tanya di pintu bisnis, ‘Tempat duduk ini di mana?’ Saya bilang, ‘Bapak di ekonomi, cuma tempat duduknya yang mana saya tidak hafal.’ Pesawat itu kira-kira muat 420 orang. Kemudian, antre, ada banyak penumpang lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik pesawat. Memberi kesempatan kepada penumpang itu service, sopan santun kru kepada penumpang. Jadi, bagi kami, penumpang itu nomor satu.

“Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, ‘Saya duduk di bisnis, kalau Bapak mau di sini, ya Bapak tanya dulu pada pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya mohon maaf.’ Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja,” demikian Polly dalam percakapan dengan saya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu membagikan handuk panas, yang biasa digunakan untuk mengelap tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang menyiapkan segala keperluannya di pantry.

Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.

Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi, Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk.

Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera, dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.

Di Changi, Munir singgah di Coffee Bean. Karena keluar dari pintu bisnis, Munir lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui gerbang D 42.

Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki.

“Anda Pak Munir, ya?”

“Iya, Pak.”

“Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?”

“Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun.”

“Di mana?”

“Utrecht.”

“Wah, Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting?” komentar dr. Tarmizi.

“Ya… ini perlu untuk saya, Pak,” timpal Munir sambil tersenyum.

“Anda ‘kan pernah nulis tentang Aceh. Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh?” tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan.

“Ah, itu bergantung niat, Dok.”

“Maksudnya?”

“Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres.”

Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu namanya sambil berkata, “Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya.”

Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi, seperti tercantum di boarding pass-nya.

Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam.

Total waktu transit di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan penumpang dari Singapura. Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan penumpang.

Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing.

Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu sedang tidur.

Tia membangunkannya dan bertanya, “Apa Bapak sudah dapat obat dari teman saya?”

“Belum.”

“Maaf, kami tidak punya obat.”

Tia lalu menawarkan makanan, yang ditolak oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan gula 1 sachet.

Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.

Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya kartu nama dokter itu.

Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station.

“Bang, ini Pak Munir penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya,” ujar Bondan sambil menyerahkan kartu nama dr. Tarmizi.

Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah berada di depan Purser Station. Sambil memegangi perut, Munir berkata, “Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk waktu dari Jakarta-Singapura.” Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet.

Madjib dan Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki. “Dokter, dokter…,” Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik.

Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk melaksanakan tugas terjadwalnya.

Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, “Saya sudah muntah dan buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura.”

Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya Munir pindah tempat duduk ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya.

“Pak Munir makan apa saja dua hari terakhir ini?” tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu.

Munir hanya diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, “Pak Munir tadi sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag.”

Munir tetap diam, tidak berkomentar.

“Kalau maag tidak begini,” kata si dokter, yang lalu bertanya kepada Munir, “Anda makan apa?”

“Biasa saja.”

“Kemarin?”

“Biasa saja.”

“Kemarinnya lagi?”

“Biasa saja.”

Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya. Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.

Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat.

Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari mengambilkan Doctor’s Emergency Kit yang ada di setiap pesawat terbang. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat di sana sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak ada obat khusus untuk sakit perut mulas atau obat muntaber biasa.

Si dokter pun mengambil obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet untuk dua terakhir.

Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam di dalamnya.

Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir kembali ke toilet.

Dr. Tarmizi melihatnya muntah. Dalam istilah kedokteran, muntahnya proyektil atau agak menyemprot, dengan warna bening dan tidak mengeluarkan bau tertentu. Saat Munir melanjutkan dengan buang air, si dokter menunggu di luar.

Munir rampung setelah lima menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib, “Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?”

Di kotak obat pesawat terdapat cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur.

Penderitaannya reda selama 2-3 jam.

Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10 menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna. Madjib memberanikan diri melongok lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang menderita di sana.

Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu sedang bersandar lemas di dinding toilet.

Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu.

Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D.

Setelah didudukkan di kursi, Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab ini aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si dokter, Munir mengeluh, “Aduh, sakit,” sambil memegang perut bagian atas.

Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, yang disambut Munir dengan menyebut, “Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah,” sambil tetap memegangi perut.

Pramugari Titik Murwati yang berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat.

Munir berkata dia ingin istirahat karena capek.

Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam. Kali ini, dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib.

Jarak antara kedua suntikan itu sekitar 4-5 jam.

Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air.

Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya ingin tidur telentang. Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat.

Dr. Tarmizi berkata kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja, sambil minta dibangunkan bila terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke kursi di 1K.

Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu miring, tidak pernah telentang atau tengkurap.

Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar 3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi penumpang. Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu dirinya membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutin mengawasi lingkungan pesawat.

Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki mengunjungi “tempat tidur” Munir.

Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi sang dokter.

Dokter memegang pergelangan tangan Munir, dan tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, “Pak Munir… Pak Munir….“

Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, “Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari.”

Purser Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.

Bondan dan Asep membacakan surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.

 

***

http://www.goodreads.com/book/show/8566988-kasus-pembunuhan-munir

 

Indonesia

WikiLeaks dan Matra Baru Jurnalisme Investigasi

(Ini adalah bagian dari kumpulan artikel yang sudah diterbitkan: arsip yang saya cari lalu unggah di sini sebagai dokumentasi. Tulisan ini dimuat di Polysemia edisi Januari 2011. Kala itu, menjelang akhir 2010, WikiLeaks menjadi fenomena global yang mengundang pro-kontra. Kontra tentu saja datang dari pemerintah, utamanya pemerintah AS. Pihak yang paling terbuka mendukung mereka adalah aktivis, jurnalis, dan penggiat kebebasan informasi.)

WikiLeaks

WikiLeaks meraih popularitas global setelah selama 2010 menerbitkan informasi yang menggemparkan komunitas internasional. Informasi ini antara lain catatan detail operasi militer Amerika Serikat (AS) di Irak dan Afganistan, komunikasi diplomatik rahasia antara Washington dan kedutaan besar AS di berbagai negara, serta sebuah video yang menunjukkan serangan helikopter Apache AS yang membunuh 12 warga sipil—termasuk 2 wartawan Reuters—di Baghdad pada 2007.

Sebelumnya, situs yang hadir pertama kali pada Desember 2006 ini juga telah mengungkap berbagai skandal besar, seperti pelanggaran hak asasi manusia di Cina, politik hitam di Kenya, dan kebijakan AS menyangkut penjara Guantanamo. Oleh karena pengungkapan-pengungkapan itu, WikiLeaks pun menerima 2 penghargaan bergengsi, yaitu Index on Censorship-Economist Freedom of Expression Award (2008) dan Amnesty International New Media Award (2009).

Bagi sebagian kalangan, organisasi dengan nama hukum Sunshine Press ini dianggap sebagai “masa depan jurnalisme investigasi” dan organisasi berita pertama yang tak memiliki negara.

Sebagai media, WikiLeaks benar-benar merdeka. Pendirian dan operasionalnya tidak didanai oleh politikus, kelompok kepentingan, atau perusahaan apa pun. Media ini tidak bertujuan mendapatkan pemasukan iklan. Mereka menyebut diri sebagai organisasi nonprofit yang didanai oleh “aktivis hak asasi manusia, wartawan investigasi, teknologis, dan publik secara umum”. Situsnya menjelaskan bahwa mereka “menerima dokumen politik atau diplomatik yang masuk kategori rahasia, terbatas, atau tersensor, dan tidak menerima gosip, opini, atau materi apa pun yang telah terpublikasi secara umum”. Dalam kata-kata pendirinya, Julian Assange, seorang aktivis dengan latar belakang peretas, “Kami berfokus pada usaha membuat materi dari whistle-blower atau jurnalis di seluruh dunia yang tidak lulus sensor bisa diakses oleh publik.” Mereka secara terbuka mengundang whistle-blower dan jurnalis untuk mengirimkan dokumen rahasia kepada situs, tapi juga sekaligus menjamin kerahasiaan identitas pengirim, bahkan dari pihak ketiga yang ingin meretas situs. Mereka menggunakan teknik-teknik kriptografi canggih dan payung hukum untuk melindungi sumber.

Dalam proses berikutnya, WikiLeaks mempekerjakan sekumpulan orang untuk menyelidiki dokumen yang mereka terima. Ini adalah cara yang disebut para penggiat jurnalisme sebagai “crowdsourcing”, yakni menggunakan banyak orang untuk menyelidiki sesuatu, bukan menggunakan wartawan investigasi tunggal seperti yang terjadi dalam contoh klasik pengungkapan Watergate. Jejaring WikiLeaks  mencakup 800 sukarelawan paruh waktu (sebagian besar wartawan dari berbagai media mainstream) dan 10.000 pendukung di seluruh dunia.

Sifatnya yang tak-bernegara ditegaskan oleh aktivitas situs yang berpindah-pindah server di beberapa negara. Mereka menyebarkan aset supaya tidak terpusat di satu lokasi, melakukan enkripsi semua data, dan memindahkan peralatan telekomunikasi dan pegawai mereka berkeliling dunia, sekaligus mendorong berlakunya hukum yang melindungi kebebasan informasi di berbagai wilayah hukum. Para sukarelawan juga membuat “mirror” dari situs asli di banyak server berbagai negara sehingga aksesibilitasnya tetap terjaga. Assange sendiri tidak memiliki kediaman tetap dan tinggal bersama teman-temannya yang tersebar di banyak negara.

Secara singkat, WikiLeaks bekerja seoptimal mungkin untuk melayani kepentingan whistle-blower (yang ingin memublikasikan informasi politik atau diplomatik rahasia dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas, dan karenanya menginginkan media yang berani, aman, sekaligus populer), jurnalis (yang butuh informasi yang menarik, kuat, dan menjanjikan kebenaran baru), dan publik (yang berhak tahu cara kerja para penguasa yang selama ini mereka sembunyikan dan tak pernah bisa ditampilkan oleh media).

 

Matra Baru: Antara Jurnalisme, Spionase, dan Gerakan Sipil

Dalam sejarahnya, di era 1900-an, jurnalisme investigasi muncul dan berkembang di AS sebagai upaya wartawan untuk “memerangi kejahatan” sehingga disebut sebagai crusading journalism atau jurnalisme jihad. Ia adalah media perlawanan terhadap elite di kalangan pemerintahan dan bisnis yang melakukan tindakan kejahatan dan antisosial. Kerja para jurnalis ini dicirikan oleh sikap yang tidak puas hanya dengan “berita yang dapat dilihat”, tapi menghendaki “penggalian yang mendalam dan berisiko tinggi” terhadap fakta-fakta tersembunyi. Dan pembuktian yang “kredibel” akan fakta tersembunyi ini hanya bisa diperoleh wartawan melalui dua cara: penelusuran (pengamatan langsung oleh wartawan) dan informasi dari orang dalam (dokumen atau kesaksian).

Intisari jurnalisme investigasi awal itu yang sekarang dikibarkan oleh WikiLeaks melalui pengumpulan dan publikasi dokumen yang telah mereka lakukan sejak 2006. Assange menggambarkan dirinya sebagai crusading journalist yang siap mengungkap “kepemimpinan yang korup dan penuh kebohongan dari Bahrain hingga Brazil” dan hanya menarget “organisasi yang menggunakan kerahasiaan untuk menyembunyikan perilaku tidak adil.”

Setelah beroperasi selama 4 tahun, mereka melakukan perubahan strategi dalam mendistribusikan dokumen. Sebelumnya, setelah mengkaji dokumen-dokumen dari sumber, WikiLeaks mengunggah begitu saja dokumen rahasia tersebut di situs dan menyebarkan rilis pers ke berbagai media internasional. Namun, saat akan memublikasikan dokumen Afganistan pada 2010, mereka bermitra dengan 3 media ternama: New York Times, surat kabar Guardian di Inggris, dan majalah Jerman yang terkenal dengan liputan investigasi, Der Spiegel. Perhatian yang diterima WikiLeaks sangat mungkin tidak sebesar sekarang bila mereka tidak melakukan kolaborasi ini.

Mereka meminta tim jurnalis dari ketiga media tersebut untuk meneliti dan menilai  kualitas dokumen tersebut. Selanjutnya, WikiLeaks membatasi distribusi awal dokumen kepada tiga media yang jurnalismenya tepercaya secara universal itu. Ini adalah sebuah bentuk kolaborasi yang belum pernah terjadi dalam dunia media. Publikasi ini pun menciptakan gelombang yang besar dan dalam hitungan menit setelah rilis online, beritanya tampil di situs-situs berita seluruh dunia, blog-blog diskusi, dan Twitter, meskipun beberapa pengamat mengatakan sebenarnya hanya ada sedikit informasi baru yang dimuat dokumen tersebut. Kerjasama dengan tiga media mainstream itu adalah langkah cerdas karena semakin penting dan besar muatan dokumen tersebut, semakin sedikit peluang dokumen itu direportasekan secara memadai bila dipublikasikan secara serempak kepada semua orang. Selain itu, bila WikiLeaks menerbitkan begitu saja semua materi yang didapat, mereka akan dituduh bertindak sembrono dan tak bertanggung jawab. WikiLeaks memang telah memasuki sebuah wilayah baru yang tak satu pun wartawan atau media pernah melakukannya.

Tak berlebihan kemudian bila WikiLeaks dinilai telah “menyelamatkan jurnalisme” karena membuka mata kita bagaimana sumber-sumber resmi (pemerintah dan korporasi) seringkali menyembunyikan kebenaran. Pada dasarnya, jurnalisme bertugas memberitakan kebenaran, dan ini yang sering gagal ia jalankan karena ketidakmampuannya memperoleh sumber berita alternatif yang kredibel sekaligus melindunginya, terutama untuk perkara besar.

Sebagai contoh, media tidak menentang agenda pemerintah AS dan Inggris untuk menggelar perang di Irak pada 2003 karena media begitu percaya pada versi resmi pemerintah (Irak menyimpan senjata pemusnah massal, yang lalu ternyata tidak terbukti) dan tidak berusaha keras untuk menemukan versi alternatif.

Namun, bagi pemerintah dan korporasi yang rahasianya dibongkar, WikiLeaks adalah sebuah ancaman serius.Para pengacara Departemen Pertahanan AS berniat menuntut WikiLeaks atas pelanggaran Undang-Undang Spionase, termasuk terlibat pencurian properti pemerintah. Tentang ini, pendukung WikiLeaks telah menyiapkan pembelaan, yakni apa yang dilakukannya dilindungi oleh Amandemen Pertama dalam Konstitusi AS, yang membela kebebasan pers dalam memperoleh dan menyebarkan informasi demi kepentingan publik.

Beberapa pejabat AS juga berargumen bahwa tindakan WikiLeaks membocorkan informasi rahasia bisa membahayakan nyawa warga sipil atau personel militer yang terlibat dalam aktivitas militer atau spionase. Tapi, hal ini segera mendapat beberapa tantangan. Daniel Ellsberg, seorang mantan analis militer yang pada 1971 mengeluarkan Pentagon Papers yang membeberkan kebohongan dan skandal pemerintah AS pada Perang Vietnam, mengatakan dirinya skeptis bahwa pemerintah AS benar-benar percaya ada nyawa yang terancam akibat tindakan WikiLeaks. Menurutnya, pejabat AS selalu mengeluarkan argumentasi yang sama tiap kali ada kebocoran informasi yang memalukan. Hal itu juga terjadi saat keluarnya Pentagon Papers, dan ternyata argumentasi itu sungguh tidak valid. Selain itu, juru bicara Pentagon menyatakan bahwa hingga 3 bulan setelah pembocoran dokumen, tidak ada seseorang yang terbunuh atau terluka di Afganistan akibat informasi yang disebarkan WikiLeaks.  New York Times sendiri menegaskan bahwa mereka telah memastikan dokumen WikiLeaks tidak memuat informasi identitas yang bisa membahayakan siapa pun.

Satu hal yang disetujui oleh para ahli dan pengamat adalah pembocoran dokumen oleh WikiLeaks akan membuat pekerjaan diplomat dan intelijen AS menjadi lebih berat. Meski pembocoran itu tidak memberikan ancaman langsung bagi nyawa warga AS,  hubungan internasional AS dengan banyak negara akan terganggu dan bisa mengarah pada hubungan antarbangsa yang tidak harmonis. Setidaknya, dokumen diplomatik yang dibocorkan akan membuat pemerintah Pakistan, Yaman, dan pemerintah lain yang berkolaborasi dengan AS dalam perang melawan terorisme menjadi lebih enggan untuk bekerja sama. Dokumen WikiLeaks berpotensi membahayakan kerjasama penting antara pemerintah AS, Inggris, dan beberapa lainnya, yang memayungi masyarakat dunia dari terorisme. Namun, potensi bahaya ini sebenarnya berpulang pada kedewasaan dan kepentingan pemimpin-pemimpin negara tersebut.

WikiLeaks adalah sesuatu yang diimpikan dari para pemrakarsa era informasi. Sama sekali tidak ada informasi monoton yang mewakili kepentingan penguasa dan kampanye tersebulung untuk mendukung kekuatan politik atau bisnis tertentu. Kebebasan informasi benar-benar ada di sana, tidak ada sensor atau pembungkaman oleh kekuatan negara maupun modal. Memang, ancaman dan gangguan datang silih-berganti. Situs WikiLeaks berkali-kali diserang oleh peretas. Dari sektor bisnis, Mastercard, Visa, dan PayPal tidak mau menyalurkan uang dari orang yang memberikan donasi kepadanya. Perusahaan web raksasa, Amazon, juga menghentikan layanan bisnis kepadanya. Rekeningnya di bank Swiss juga telah ditutup. Sejak 2006 hingga 2010, mereka telah menghadapi lebih dari 100 tuntutan hukum yang berupaya membuatnya offline dari internet. Bagaimanapun, WikiLeaks tetap beroperasi hingga sekarang.

Bahkan, mereka telah bergerak lebih jauh dengan melakukan gerakan sipil lintas-negara, yaitu mengampanyekan kebebasan informasi dan pers sekaligus perlindungan hukum bagi wartawan dan narasumber mereka. WikiLeaks menjadi titik temu bagi potensi besar teknologi informasi, jurnalisme (investigasi), dan gerakan sipil yang semuanya ingin mewujudkan perilaku politik yang lebih adil. Pengalaman WikiLeaks “berhubungan” dengan berbagai aturan hukum di banyak negara membuatnya diminta membantu Perdana Menteri Islandia menyusun rancangan bagi Icelandic Modern Media Initiative (IMMI), yang bertujuan membangun perangkat hukum untuk melindungi wartawan dan narasumber mereka. Dan keterlibatannya dalam IMMI memberi WikiLeaks kredibilitas baru.

Sekarang, Julian Assange sedang ditahan Interpol atas tuduhan kejahatan seksual terhadap 2 perempuan Swedia, tuduhan yang langsung ditolak oleh Assange dan dianggap banyak pihak sebagai rekayasa akibat ketidakmampuan “penguasa” menghentikan aktivitas media ini. Assange dan WikiLeaks dinilai telah menyelamatkan jurnalisme dari kepalsuan, tapi siapa yang akan menyelamatkan Assange?